Pages

Sabtu, 09 Februari 2013

Gaya Bahasa

Diposkan oleh Mauli di 07.10
Gaya bahasa dalam karya sastra berfungsi sebagai alat utama pengarang untuk melukiskan, menggambarkan, dan menghidupkan cerita secara estetika. Gaya bahasa sangat banyak jenisnya. Berikut dijelaskan tiga jenis gaya bahasa yang sangat sering muncul dalam karya sastra.
1) Personifikasi
Gaya bahasa ini sering digunakan dalam karya sastra. Gaya bahasa ini mendeskripsikan benda-benda mati dengan cara memberikan sifat-sifat sperti manusia.
Contoh :
* Matahari sedang mencium lembah-lembah gunung (Anak Bajang Menggiring Angin, Sindunata )
* Dari arah hutan di lembah, pipit dan jalak berceloteh ria ( Pergolakan, Wildan Yatim ).
* Ingat ranting, berkuping nyaring.
* Ingat batu, pandai berkata.
* Lonceng berbunyi, memamnggil siswa untuk berkumpul
2) Simile (Perumpamaan )
Gaya bahasa ini mendeskripsikan/menggambarkan sesuatu dengan pengibaratan. Ciri yang sangat tampak ,yakni adanya penggunaan kata ibarat, laksana, seperti, umpama, ataupun bak
Contoh :
Langit yang berawan itu adalah seperti payung ubur-ubur, yang diperbuat daripada sutera hijau ( Azab dan Sengsara, Merari Siregar ).
3) Hiperbola
Gaya bahasa ini mendeskripsikan sesuatu dengan cara berlebihan dengan maksud memberikan efek berlebihan.
Contoh :
* Napas membiru, peluh bercucuran menganak sungai, debar jantung menggila, raung sirine yang memekakan telinga dan menggetarkan kat-kata, jendela membuat mereka bergerak semakin cepat ( Area X, Eliza Vitri Handayani ).
* Selama ini, ia bekerja membanting tulang, memeras keringat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
* Air matanya menganak sungai.
* Pelawak Supali berhasil mengocak-ngocak perut penonton.
* Film drama rumah tangga itu berhasil mengguncang-guncang perasaan penontonnya.
4) Metafora
Gaya bahasa yang mengandung perbandingan yang sejajar atau memiliki kesamaan, sebagai pengganti suatu kata atau ungkapan
Contoh :
* Raja siang bersinar diufuk timur.
* Dewi malam keluar dari peraduannya.
* Kepercayaan pada diri sendiri meluap seperti bibir.
5) Klimaks
Gaya bahasa yang penegasannya dengan menyebutkan beberapa hal berturut-turut yang makin lama menghebat.
Contoh:
* Sepeda, becak, motor, mobil menghiasi keramaian lalu lintas di kota Surabaya.
* Jangankan berdiri, duduk, bahkan bergerakpun ia tak mampu.
* Sawahnya, rumahnya , ternaknya pun telah dijual olehnya.
6) Anti Klimaks
Gaya bahasa menyebutkan beberapa hal berturut-turut semakin menurun
Contoh :
* Gedung-gedung, rumah-rumah, gubuk-gubuk, semuanya menutup pintu.
* Jangankan berdiri, duduk, bahkan bergerakpun ia tak mampu.
* Sawahnya, rumahnya,ternaknya pun telah dijual olehnya.
7) Repetisi
Gaya bahasa penegasan dengan cara mengulang-ulangi kata atau bagian kalimat.
Contoh :
* Jangan cemas, dia pasti datang lagi, percayalah, dia pasti datang lagi.
* Meskipun tidak lulus, engkau jangan putus asa, sekali lagi jangan putus asa.
* Tenanglah, tenanglah, nanti aku yang membereskannya.
8) Paradoks
Gaya bahasa yang menyebutkan dua hal yang bertentangan padahal sebenarnya tidak
Contoh :
* Pak Heru memang kaya, tetapi miskin batinnya.
* Sering aku kesepian dikota besar yang ramai ini.
* Wajahnya tampak seram, tetapi hatinya seputih salju.
9) Antitesa
Gaya bahasa yang memakai kata-kata yang berlawanan arti untuk mempertegas maksud.
Contoh :
* Besar kecil, tua muda, laki-laki perempuan, semuanya menghadiri pertunjukkan itu.
* Diam tetapi bekerja keras itulah contoh yang baik.
* Hasil ulanganmu kurang memuaskan
10) Ironi
Gaya bahasa yang dipergunakan untuk menyindir secara halus lawan bicaranya
Contoh :
* Lekas betul abang pulang hari ini,sekarang baru pukul dua belas malam.
* Aduh, manis benar kopi ini, Rin ! Mungkin belum kau beri gula.
* Wah, bagus benar tulisanmu, Ed ! Hampir-hampir tidak bisa dibaca.
11) Sinisme
Gaya bahasa yang menyindir lawan bicaranya dengan lebih kasar daripada ironi.
Contoh :
* Mual perutku mendengar nasihatmu !
* Jijik aku melihat sihidung belang itu!
* Muntah aku melihat tingkah lakumu !
12) Sarkasme
Gaya bahasa yang menyindir lawan bicaranya dengan cara amat kasar sehingga bisa menyakitkan hati.
Contoh :
* Memang otak udang isi kapalamu itu !
* Hai berdebah, belum juga kau keluar dari ruangan ini !
* Dia memang pernah minggat dari sini.
13) Metonimia
Gaya bahasa yang mempergunakan kata yang berasosiasi dengan suatu benda.
Contoh :
* Cintanya lebih tingi dari pada singga sana .
* Ibu tadi membawa kartini dari sekolah.
* Pernahkah anda membaca pertiwi ?
* Yanti membeli levis.
14) Pleonasme
Gaya bahasa yang memberikan keterangan terhadap suatu kata yang sebenarnya telah mengandung keterangan.
Contoh :
* Nelayan itu mengarungi samudra yang sangat luas.
* Kapal terbang itu jatuh dari atas ke bawah sehingga hancur berkeping-keping.
* Sebenarnya dia telah mendengar berita itu dengan telinganya sendiri.
15) Inversi
Gaya bahasa yang menarik perhatian dengan cara membalik susunan katanya.
Contoh :
* Cakap benar pemuda itu
* Itulah mahkota pengetahuanku
* Memang tidak punya malu anak itu.
16) Litotes
Gaya bahasa yang mempergunakan kata yang berlawanan arti dengan tujuan untuk merendahkan diri.
Contoh :
* Sudilah Tuan singgah ke gubuk kami ?
* Terimalah hadiah yang kurang berarti ini dengan tangan terbuka.
* Pertolongan apakah yang Tuan harapkan dari saya yang bodoh ini ?
17) Simbolik
Gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan lambang-lambang.
Contoh :
* Berhati-hatilah berbicara dengan bunglon !
* Janganlah engkau tertipu oleh Si Kancil itu !
* Hendaknya jangan sampai tertangkap oleh lintah darat itu !
18) Koreksi
Gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu yang salah lalu dibetulkan lagi.
Contoh :
* Selamat pagi anak-anak, maaf selamat sore.
* Ayah sedang bekerja, bukan, sedang tidur.
* Silakan duduk tuan, maaf, silakan makan.
19) Retoris
Adalah gaya bahasa dengan mengajukan pertanyaan yang tidak perlu dijawab, untuk menarik perhatian.
* Inikah yang kammmmmmu maksud bekerja ?
* Mungkinkah kalian pandai tanpa belajar ?
* Siapakah yang tidak mengakui bahwa Tuhan itu Mahatahu ?
20) Asosiasi
Gaya bahasa yang membandingkan sesuatu benda yang telah disebutkan dengan benda lain. Pada umumnya asosiasi menggunakan kata penghubung.
Contoh :
* Hatinya sedih bagai diiris-iris pisau.
* Semangatnya keras seperti baja.
* Mukanya pucat bagai mayat.
21) Sinekdok
Gaya bahasa yang menyebutkan sesuatu benda. Bila penyebutan sebagian yang dimaksudkan disebut Sinekdok pars pro toto.
Contoh :
* Sudah lama aku tidak melihat batang hidungmu.
* Tak puasnya ia memandang tubuh yang kecil montok itu.
* Bu Tina membeli tiga ekor ayam yang disembelih.
Sedangkan bila penyebutan itu seluruhnya tetapi yang dimaksudkan sebagian disebut Sinekdok totem pro parte.
Contoh :
* Indonesia mendapat piala emas dalam Asian Games tahun ini.
* Pada hari itu bangsa Indonesia mengumumkan kemerdekaannya.
* Letusan bom Nagasaki sungguh telah menggoncangkan dunia.
22) Paralelisme
Gaya bahasa perulangan yang terdapat di dalam sajak. Bila perulangan itu terdapat pada awal baris disebut anafora.
Contoh :
* Kaulah diam malam yang kelam,
Kaulah tenang sawah yang lapang,
Kaulah lelap orang di lawang,
Ah, engkau nan masih lemah melambai
………………………………………….
Rustam Effendi, Percikan Permenungan
Sedangkan bila perulangan itu terdapat pada akhir baris disebut Epifora
Contoh :
* Kaulah kau memang, Ia akan datang
Bila kau pinta,ia akan datang
Jika kau kehendaki, ia akan datang
23) Retisentia
Gaya bahasa yang menyembunyikan sebagian pikiran atau perasaan untuk menarik perhatian.
Contoh :
* Wajah yang senantiasa jernih lembut pada pemandangannya itu …………
* Memang dia amat bijaksana lagi pula………………………….
* Tentu saja peristiwa itu membuat Nani…………..
24) Tautologi
Gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu dengan cara menyebutkan dua kata yang searti
Contoh :
* Peristiwa itu tidak saya inginkan, tidak saya harapkan.
* Kehadirannya tidak saya panggil, tidak saya undang.
* Cintanya telah berurat berakar.
25) Asindenton
Gaya bahasa penyebutan beberapa hal secara berurutan tanpa menggunakan kata sambung.
Contoh :
* Kaya, miskin, pandai, bodoh, sama saja di hadapan Tuhan.
* Sedih, sakit, susah telah menjadi untungnya selama ia dalam perantauan.
* Kesulitan,kegagalan adalah makanan pagi bagi wiraswastawan
Bila penyebutan itu menggunakan kata sambung disebut polisindenton.
Contoh :
* Orang tuaku dan kakak-kakakku seta adik-adikku berdoa untuk keberhasilanku.
* Kedua tangannya dan kedua kakinya sangat manis dan lucu bentuknya.
* Inilah saat aku bekerja dan hidup serta tidak terganggu.

0 komentar:

 

Mauli's Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea