Pages

Rabu, 18 September 2013

WACANA RENDAHNYA MINAT BACA DIKALANGAN PELAJAR

Diposting oleh Mauli di 08.23

 
Minat baca masyarakat Indonesia masih relatif rendah karena aktivitas ini belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Indokator biro pusat statistik menyebutkan bahwa hanya 18,94 % penduduk Indonesia diatas usia 10 tahun yang mendapatkan informasi dengan membaca, terpaut jauh dengan yang mendapat informasi dari televisi yang mencapai 90,27%, demikian menurut siaran pers yang diterima Parent’s Guide.
Sedihnya, umumnya perilaku malas membaca itu didominasi oleh usia pelajar atau masih produktif. Rendahnya minat baca dikalangan pelajar sepertinya harus menjadi perhatian khusus masyarakat Indonesia.Oleh karena itu, masyarakat Indonesia dituntut lebih kreatif untuk mendongkrak minat baca dikalangan pelajar.
Padahal, sudah tidak ada orang yang bisa meragukan manfaat membaca. Membaca akan menumbuhkan rasa ingin tahu, mengembangkan daya imajinasi serta meningkatkan kreatifitas, selain juga akan membantu memahami pola dan metodologi penyusunan logika. Hal-hal tersebut akan sangat membantu para pelajar dimasa depannya.
Sementara itu, dalam pergaulan, mafaat membaca buku akan membantu mereka untuk belajar mengekspresikan diri secara jelas dan penuh percaya diri. Selain itu, mereka juga akan siap dalam menghadapi kehidupan nyata serta belajar untuk menyikapi situasi dan lingkungan baru yang asing bagi mereka.
Dinegara-negara maju diseluruh dunia, budaya membaca didorong pada anak-anak usia dini. Orangtua dan pemerintah memahami bahwa kebiasaan membaca yang sehat sangat penting bagi generasi muda untuk bersaing di pasar global dimasa depan.
Menurut data statistik pengunjung perpunas pada 2011, hanya 38100 orang yang datang berkunjung.Dari jumlah tersebut, hanya 2221 pengunjung yang berasal dari kalangan pelajar Indonesia.Tentu saja ini menjadi gambaran yang tidak terlalu menggembirakan mengenai minat baca dinegeri ini.
Perlu dikembangkan berbagai metode kreatif agar membaca itu menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi para pelajar. Semua pihak harus memikirkan cara terbaik untuk memancing minat membaca pelajar. Setiap anggota masyarakat harus membantu terwujudnya gerakan berbagai organisasi kemasyarakatan sudah memulai gerakan diindonesia dan mengusahakan agar pelajar dapat mengakses buku-buku ini dengan mudah disebanyak mungkin tempat.Contohnya, badan perpustakaan untuk diterapkan secara nasional dalam menyediakan akses buku-buku kepada pelajar.
Dalam waktu dekat, armada perpustakaan keliling yang baru juga akan beroperasi dilingkungan Anda. Armada perpustakaan ini menjanjikan lebih banyak keuntungan selain daripada sekedar mengakses buku-buku.Minat pembaca adalah salah satu fondasi penting dalam mencerdaskan dan memajukan bangsa Indonesia, seperti halnya bagi negara lain manapun. Hal itulah yang membuat berbagai inisiatif mendongkrak minat baca bagi para pelajar Indonesia akan sangat berarti.
Kurangnya kegemaran membaca adalah menurunnya keinginan untuk menambah pengetahuan lewat jendela dunia berupa bacaan sebagai sumber informasi.

Rendahnya minat baca dikalangan siswa khususnya siswa kelas X SMA dan masyarakat Indonesia pada umumnya, berpengaruh buruk terhadap kualitas pendidikan. Wajar, sudah lebih setengah abad bangsa Indonesia merdeka, permasalahan kualitas pendidikan masih berada dalam potret yang buram.Kualitas pendidikan bangsa Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangganya.
Kurangnya kegemaran membaca di kalangan siswa terjadi karena siswa terbiasa disodorkan oleh informasi instan yang biasa diperoleh dari siaran TV dan media elektronik lainnya.Disamping itu, remaja menganggap membaca adalah hal yang membosankan. Padahal dengan membaca cakrawala intelektual kita bisa terbuka dan menjadikan kita lebih tanggap akan lingkungan sekitar.
Mengingat pentingnya membaca dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi para pelajar, maka tingginya minat baca bagi para pelajar, wajib dipupuk karena membaca amat menentukan bagi prestasi seorang pelajar. Bagaimana prestasi belajar siswa akan tinggi jika para siswa enggan membaca  baik buku–buku yang berhubungan denganpelajaran ataupun buku–buku lainnya yang menunjang?.

Buku adalah harta terpendam yang dapat mencerdaskan bangsa, bagaimana bangsa kita bisa cerdas jika setiap pelajarnya enggan untuk membacanya.Tinggi rendahnya minat baca suatu bangsa amat menentukan kualitas sumber daya manusia, sedangkan kualitas sumber daya manusia sangat menentukan perkembangan suatu bangsa.

Meskipun hampir di setiap sekolah memiliki perpustakaan, namun selama ini perpustakaan hanya dianggap tempat menyimpan buku.Hanya sedikit pelajar yang memiliki kesadaran untuk berkunjung ke perpustakaan pada saat waktu luang.Sebagian besarnya menggunakan waktu luang untuk bermain atau sekedar mengobrol kanan, kiri, kalaupun ada yang berkunjung ke perpustakaan itu hanya pada saat–saat tertentu saja, misalnya pada saat ada tugas dari para guru. Ada juga para siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya untuk membaca cerita roman, para siswa tidak memiliki kesadaran akan arti penting membaca.

Penyebab munculnya masalah kurang membaca:
1.      Karena membaca bukan budaya masyarakat Indonesia. Kita lebih terbiasa mendengar orang tua ataupun kakek nenek kita bercerita dan mendongeng ketimbang membaca buku cerita.
2.      Pengaruh budaya dengar, tonton, dan media elektronik yang berkembang pesat. Anak tidak dibiasakannya mengisi waktu luang dengan membaca buku, sebaliknya tahan berlama-lama nonton televisi. Ada yang mengatakan bahwa budaya baca di Indonesia yang memprihatinkan ini karena kita langsung meloncat dari budaya lisan ke gambar (televisi dan film). Sedangkan negara-negara barat dimulai dari budaya bicara, baca, baru ke gambar.
3.      Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat pelajar atau mahasiswa harus membaca buku, mencari, dan menentukan informasi lebih dari sumber yang diajarkan di sekolah.
4.      Kurang tersedianya buku-buku yang berkualitas dengan harga yang terjangkau juga menjadi faktor penyebab rendahnya minat baca. Hal itu diperparah minimnya perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau. Juga kurang memadainya koleksi, fasilitas, dan pelayanan yang ada. Termasuk, tidak meratanya penerbitan dan distribusi buku ke berbagai daerah.
Beberapa faktor penyebab kurangnya kegemaran membaca di kalangan remaja adalah :
1.      Faktor Lingkungan
               Lingkungan adalah faktor utama dalampembentukan kepribadian seseorang, jika lingkungan sekitar kita berisikanorang-orang yang memiliki hobi kongkow-kongkow, tidak suka membaca sedikit banyakakan mempengaruhi diri kita.
2.      Teknologi yang semakin canggih
               Banyaknya media hiburan seperti  TV, komputer, hand phone, VCD, tape recorder,dan lain–lain. Hal ini banyak menyita waktu dan orang lebih memilih menikmatihiburan dibandingkan dengan membaca buku .
3.      Kurangnya Kesadaran  
               Meskipun kedua faktor di atas tidakada, hobi membaca tidak akan tercipta jika kita tidak menanamkan kesadaran akanmanfaat membaca. Namun sebaliknya, meskipun kedua faktor di atas ada, jika masing-masing individu menanamkan rasa kesadaran akan pentingnya membaca, tentusaja hobi membaca akan muncul dalam diri kita dan membaca akan menjadikebutuhan bagi diri kita.
4.      Kurangnya Motivasi
               Motivasi dari berbagai pihak amat dibutuhkan terutama dari dewan guru dan orang tua murid .
5.       Suasana Perpustakaan yang kurang nyaman

Cara Menanggulanginya:
1. Memberikan pemahaman akan pentingnya membaca
Cara ini menekankan pada siswa bahwa membaca memiliki banyak manfaat. Karena dari membaca pengetahuan semakin luas dan akan banyak hal baru yang akan kita dapat .
2. Motivasi dari berbagai pihak
Guru sebagai fasilitator wajib memberikan motivasi kepada para siswanya, dengan cara memberikan berbagai tugas yang sumbernya dapat diperoleh di perpustakaan, dengan begitu siswa akan sering berkunjung ke perpustakaan. Bukan hanya dewan guru saja yang wajib memberi motivasi tapi juga orang tua siswa, karena motivasi merupakan energi penting didalam meraih keberhasilan, dan merupakan bentuk aktualisasi yang pada umumnya diwujudkan dalam perbuatan nyata.
3.         Membuat suasana perpustakaan menjadi nyaman
Suasana perpustakaan yang nyamanmembuat para siswa betah untuk berlama-lama di perpustakaan dan hal ini akanmendorong siswa untuk berkunjung ke perpustakaan serta membaca buku–buku yangada.
4.      Ketersediaan buku-buku yang berkualitas di perpustakaan 
Buku-buku yang berkualitas dan mudah di telah akan mendorong para siswa untuk gemar membaca dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan.
5.      Adanya kesamaan visi dan misi dari pemerintah dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat pada umumnya dan khusus pelajar.
6.      Selain sekolah sebagai institusi yang mengajarkan membaca, peran ibu dinilai amat berpengaruh. Seorang ibu biasanya memiliki waktu jauh lebih banyak dibandingkan ayah. Anak juga lebih dekat dengan ibu. Ibu punya kekuatan luar biasa untuk membentuk anak. Kalau ibu menggunakan peranannya dalam konteks memberikan contoh yang baik bagi anaknya, seperti membaca maka anak akan menjadi pembaca.
7.      Mengenalkan buku/bacaan terhadap anak sejak kecil, serta membiasakan diri untuk mengajak anak mengunjungi toko buku dan perpustakaan.
8.       Guru atau dosen lebih sering memberi tugas yang membuat anak didik harus mencari informasi di perpustakaan.
9.      Saling membacakan secara bergantian dalam suatu kelompok dapat memberikan nuansa berbeda pada materi yang dibacanya, kemudian dilanjutkan dengan membahas inti bacaanya.
10.   Mengundang penulis, narasumber atau tokoh yang berhubungan dengan buku yang dibaca. Sehingga dapat memotivasi untuk juga berkarya tulis.
11.  Melakukan kunjungan ke tempat-tempat objek tulisan, sehingga dapat mencocokkan apa yang dilihat dan dibaca.
12.   Membiasakan saling memberikan buku sebagai hadiah.
13.   Meminjamkan buku satu sama lain.
14.  Membuat anggaran khusus belanja buku.
15.   Pengadaan lomba-lomba membaca dan menulis, menggambar dengan memberikan penghargaan, menjadi pendorong untuk menggairahkan minat baca.
16.  Mempagelarkan karya-karya tulis dalam suatu pementasan, dimaksudkan untuk mengembangkan budaya baca melalui seni seperti tari, nyanyi, musik, puisi dan lain-lain.

            Tak dapat dipungkiri, kehadiran sastra remaja yang lebih populer dengan TeenLit (teenagers literature) memang cukup memengaruhi minat baca para remaja. Mereka yang kurang menyukai bacaan berat (sastra serius) memang lebih banyak meminati bacaan TeenLit, karena karya jenis ini memang lebih ringan dan mudah dicerna. Bahasa yang digunakan pengarang pun tak berat dan rumit, sehingga mereka lebih mudah memahami apa yang disampaikan pengarang.

            Mayoritas remaja mengakui, kegemaran mereka terhadap TeenLit disebabkancerita dan bahasanya yang memang  dan dekat dengan dunia mereka. Ini tak mengherankan karena sebagian besar pengarang-pengarang TeenLit sendiri masih remaja, atau paling tidak anak muda.Mereka dapat bercerita dengan fasih tentang lika-liku kehidupan remaja, sehingga para remajayang membaca karya-karya mereka merasa dekat dan akrab.
Sementara itu, dalam dunia penerbitan, kehadiran TeenLit memang cukup menggiurkan.Pangsa pasar remaja yang luas membuat beberapa penerbit sangat antusias menghadirkan bacaan yang memang sedang marak dan banyak diburu di pasaran.Tak sedikit dari penerbit yang sebelumnya tak memiliki lini TeenLit, akhirnya memasang caption khusus di setiap buku yang diterbitkan.Sebut saja penerbit Gramedia. Penerbit yang cukup merajai dunia perbukuan di Tanah Air itu sejak 2004 memang konsisten dengan penerbitan buku TeenLit setelah sebelumnya sukses dengan buku-buku ChickLit. Novel Dealova karya pengarang muda Dyan Nuranindya tercatat sebagai salah satu pelopor novel TeenLit asli (non terjemahan) yang diterbitkan Gramedia. Novel ini terbilang sukses, terutama setelah difilmkan dengan judul sama.

Sejak itulah geliat penerbitan novel dengan genre TeenLit ini makin terasa.Banyak penerbit yang berlomba-lomba menerbitkan novel tema remaja yang ringan dan mudah dicerna.Membacanya pembaca tak perlu mengerutkan kening karena dari segi isi memang tak terlalu berat.

Jika diteliti, tema yang diangkat dalam sastra remaja memang tak jauh dari tema cinta dan pernak-pernik dunia remaja. Tema yang lebih banyak memotret problematika kehidupan remaja itulah yang menyebabkan novel TeenLit laris manis di pasaran.
Lahirnya

Selain efek menjamurnya penerbit yang menerbitkan novel TeenLit, dampak hadirnya bacaan ini juga berpengaruh terhadap jumlah penulis muda di Tanah Air.Tak terhitung jumlah penulis remaja yang sekarang bermunculan.Baik dari kalangan anak-anak atau remaja yang ikut memeriahkan dunia literasi.Tentu, ini merupakan berita baik yang perlu diapresiasi. Kehadiran mereka di ranah literasi patut diacungi jempol karena mereka telah memberi sumbangsih pada masyarakat dan generasi mendatang agar bisa membaca,

Namun, bermunculannya novel TeenLit dan para penulis diakui oleh pengarang dan praktisi perbukuan memang akan mengalami persaingan yang kentara, melihat jumlah penulis yang makin banyak. Apalagi, tema yang mereka garap hampir serupa; tentang cinta dan lika-likupergaulan dunia remaja.

Menurut Asma Nadia, salah seorang pengarang novel remaja, sejauh ini novel-novel TeenLit mayoritas memaparkan kehidupan remaja dan permasalahannya, tapi hanya sekadar potret. Mereka belum banyak yang memberi solusi yang mendidik.Padahal, menurut Asma Nadia, sebuah karya seharusnya bisa berfungsi lebih dari sekadar bacaan yang menghibur.Tapi, juga ada nilai-nilai yang ditawarkan serta memberi kontribusi yang kentara pada remaja.

Sementara dari para pengarang sendiri, Asma Nadia melihat belum ada yang jejak kepengarangannya kuat, atau yang punya gaung.Untuk itu, pengarang TeenLit harus berbenah jika memang ingin serius jadi pengarang. (Annida, 2007: 22)

TeenLit dan Royalti Penulis
.Menulis selain sebagai salah satu bentuk ekspresi seorang penulis, juga sebagai lahan penghasilan yang diharapkan oleh semua penulis. Tak heran, jika ada penulis yang sukses dan kaya raya dari hasil penjualan buku-bukunya.Sebut saja JK Rowling yang kekayaannya konon melebihi kekayaan Ratu Inggris, Elizabeth II.Berkah itu didapatnya dari serial novelnya Harry Potter, yang berkisah tentang penyihir cilik.Padahal, sebelumnya Rowlingadalah perempuan yang terbilang miskin.

Namun, tahun 1997 nasibnya berubah total ketika penerbit Inggris, Bloomsbury Press, menerbitkan buku Harry Potter yang pertama, Harry Potter and The Philosophers Stone (di Amerika terbit dengan Harry Potter and Sorcerers Stone).Bahkan, seri kelima Harry Potter and The Order of the Phoenix, laris terjual pada hari pertama diluncurkan.Meledaknya penjualan ini membuat buku itu dinobatkan sebagai buku terlaris sepanjang masa. Cetakan pertama seri kelima ini, yang berjumlah 8,5 juta eksemplar, sebagian besar dipesan sebelum naik cetak. (Rahmadiyanti, 2004: 57).

1 komentar:

Vivien mengatakan...

Perayaan hari buku nasional gak bisa dilepaskan dari minat baca. Banyak cara dilakukan untuk meningkatkan minat baca, seperti yang dilakukan oleh best western kemayoran yang membagi-bagikan buku gratis.

 

Mauli's Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea