Pages

Selasa, 01 Maret 2016

Cara Belajar Mahasiswa Kedokteran

Diposkan oleh Mauli di 00.37


1.      Menurut Slameto (2003) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, yaitu:
a.    Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
1.      Faktor fisiologis
Pertama keadaan tonus jasmani, Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisi yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terha­dap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
Cara untuk menjaga kesehatan Jasmani antara lain adalah:
-Menjaga pola makan yang sehat
-Rajin berolahraga agar tubuh selalu bugar dan sehat, dan
-Istirahat yang cukup dan sehat.
Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra. Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar. Pancaindra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga.
2.      Faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Bebera­pa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah sebagai berikut:
a.       Motif
Motif merupakan hal yang penting dalam manusia bertindak. Dengan motif yang kuat, individu akan berusaha untuk menghadapi tugas yang telah ditentukan. Apabila anak mempunyai motif yang cukup kuat untuk belajar maka ia akan berusaha agar dapat belajar dengan sebaik-baiknya.
b.      Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994) mendefinisi­kan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003), minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
c.       Konsentrasi dan perhatian
Agar proses belajar dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya maka diperlukan konsentrasi yang baik atas materi yang sedang dipelajari. Seluruh perhatian harus dicurahkan kepada apa yang dipelajari. Apabila tidak ada konsentrasi maka apa yang dipelajari itu tidak kan masuk ke ingatan dengan baik. Banyak anak yang keihatannya belajar, tetapi karena perhatiannya tidak terkonsentrasi pada apa yang dipelajari maka ia tidak tauhu apa yang sedang ia pelajari itu.
d.      Natural curiosity
Hal ini berhubungan dengan motif individu. Natural curiosity ialah keinginan untuk mengetahui secara alami. Kalau dalam diri anak sudah terselip rasa ingin tahu, ini berarti bahwa anak memiliki dorongan atau motif untuk mengetahui apa hakikat dari mata pelajaran  yang dipelajarinya itu.
e.       Balance personality (pribadi yang seimbang)
Apabila individu telah memiliki pribadi yang seimbang maka individu akan dapat menyesuaikan diri dengan situasi disekitarnya dengan baik. Apabila keadaan pribadinya terganggu terutama dalam segi emosinya maka hal itu akan memengaruhi ndividu dalam menghadapi persoalan, termauk dalam belajar. Oleh karena itu, perlu ada penjagaan yang sebaik-baiknya, jangan sampai anak mengalami gangguan dalam pribadinya.
f.       Self confidence
Self confidence yaitu kepercayaan kepada diri sendiri bahwa dirinya juga mempunyai kemampuan seperti teman-temannya untuk mencapai prestasi yang baik.
g.      Self discipline
Ini merupakan disiplin terhadap diri sendiri. Self dicipline ini harus ditanamkan dan dimiliki oleh tiap-tiap individu. Walaupun mempunyai rencana belajar yang baik, namun hal itu akan tetap tinggal rencana kalau tidak ada disiplin diri.
h.      Kecerdasan/intelegensi siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampu­an psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang lain. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sendiri sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia. Ingatan
i.        Motivasi
Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.  Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah:
1.      Dorongan ingin tahu dan ingin menyelediki dunia yang lebih luas,
2.      Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju,
3.      Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-  orang penting, misal­kan orangtua, saudara, guru, atau teman-teman dll.
4.      Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengeta­huan yang berguna bagi dirinya,    dan lain-lain,
5.      Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun kompetisi,
6.      Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran, dan
7.      Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.
j.        Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat memeng­aruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Syah, 2003)
b.    Faktor Eksternal
Dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktor faktor eksternal yang memengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
1.      Lingkungan sosial
Lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimili­ki oleh anaknya atau peserta didiknya, antara lain dengan mendukung, ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakat­nya.
Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masya­rakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengang­guran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memer­lukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.
2.      Lingkungan nonsosial.
Faktor faktor yang termasuk lingkung­an nonsosial adalah:
a.       Faktor alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupa­kan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.
b.      Faktor instrumentalyaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapang­an olahraga. Contohnya, letak sekolah atau tempat belajar harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
c.       Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembang­an siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus mengua­sai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.
2.    Nursalam dan Ferry Efendi (2008) menyatakan bahwa prinsip adult learning, yaitu:
a.       Nilai manfaat
b.      Sesuai dengan pengalaman
c.       Masalah sehari-hari
d.      Praktis
e.       Sesuai kebutuhan
f.       Menarik
g.      Berfarisipasi aktif
h.      Kerja sama
i.        Lakukan perhatian dalam suasana informal
j.        Variasikan metode pembelajaran
k.      Variasikan metode pembelajaran
l.        Arahkan dan berikan motivasi
m.    Tunjukkan antusiasme
3.    Menurut Herman Nirwana, dkk (2002:77) keterampilan belajar adalah suatu keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang siswa untuk dapat sukses dalam menjalani pembelajaran di sekolah (sukses akademik) dengan menguasai materi yang di pelajarinya.  Study skills akan bisa diterapkan apabila peserta didik mampu membuat dirinya lebih antusias dalam sebuah kegiatan belajar, sehingga dengan rasa antusias tersebut peserta didik mampu memilih dan menerapkan study skills yang sesuai dengan dirinya.
4.    Cara menerapkan cara belajar yang sedang digunakan adalah dengan cara mengidentifikasi kesesuaian diri dengan metode belajar yang di minati, lakukan dan buatlah rencana belajar dengan metode belajar yang diminati tersebut dan terakhir adalah berusah untuk dapat merealisasikan rencan-rencana belajar yang telah dibuat (Hasrul, 2009).
5.    Menurut Hasrul (2009)  menyatakan gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Terdapat tiga tipe gaya belajar, yaitu:
a.       Visual
Cenderung belajar melalui apa yang mereka lihat, cara penerapanya dengan menggunakan media-media visual sebagai saran belajar seperti gambar, dan video.
Berikut ciri-ciri modalitas belajar visual:
1.      Rapi dan teratur
2.      Berbicara dengan cepat
3.      Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik
4.      Teliti terhadap detail
5.      Mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi
6.      Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka
7.      Mengingat apa yang dilihat, daripada yang didengar Mengingat dengan asosiasi visual
8.      Biasanya tidak terganggu oleh keributan
9.      Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya
10.  Pembaca cepat dan tekun
11.  Lebih suka membaca daripada dibacakan
12.  Membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek
13.  Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara ditelpon dan dalam rapat
14.  Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
15.  Lupa menjawab pertanyaan dengan jawanban singkat ya atau tidak
16.  Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato
17.  Lebih suka seni daripada musik
18.  Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata
19.  Kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan
b.      Auditorial
Auditorial yaitu belajar melalui apa yang mereka dengar. cara penerapanya adalah dengan cara menggunakan media-media suara sebagai saran belajar,seperti active listening. Berikut ciri-ciri modalitas belajar auditorial:
1.      Berbicara kepada diri sendiri saat kerja
2.      Mudah terganggu oleh keributan
3.      Menggerakan bibir mereka dan mengucapkan tulisan dibuku ketika membaca
4.      Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
5.      Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara
6.      Merasa kesulitan untu menulis
7.      tetapi hebat dalam bercerita
8.      Berbicara dengan irama yang terpolah
9.      Biasanya suka musik daripada seni
10.  Belajar dengan mendengarkan dan
11.  mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
12.  Suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
13.  Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain
14.  Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
15.  Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
c.       Kinestetik
Kinestetik adalah belajar melalui gerak dan sentuhan. Cara penerapanya adalah dengan cara menggunakan media-media gerak sebagai sarana belajar seperti: melakukan gerakan tertentu ketika belajar. Berikut ciri-ciri modalitas belajar kinestetik.
1.      Berbicara dengan perlahan
2.      Menanggapi perhatian fisik
3.      Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
4.      Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
5.       Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
6.      Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
7.      Belajar melalui memanipulasi dan praktik
8.      Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
9.      Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
10.  Banyak menggunakan isyarat tubuh
11.  Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama
12.  Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang telah pernah berada di tempat itu
13.  Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
14.  Menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
15.  Kemungkinan tulisannya jelek
16.  Ingin melakukan segala sesuatu
17.  Menyukai permainan yang menyibukkan”.
6.      Menurut Murti (2012) berdasarkan hasil riset psikologi kognitif, para pendidik yakin, institusi pendidikan perlu memusatkan perhatian untuk mengajarkan keteampilan berpikir kritis kepada para mahasiswa, dan memupuk sifat-sifat intelektual mereka. Seperti halnya cara memahami subjek lainnya, mempelajari cara berpikir kritis meliputi dua fase: (1) internalisasi; dan (2) penerapan. Fase internalisasi mencakup konstruksi ide-ide dasar, prinsip, dan teori-teori berpikir kritis di dalam pikiran pebelajar. Fase penerapan mencakup penggunaan ide-ide, prinsip, dan teori itu oleh pembelajaran di dalam kehidupan sehari-hari.
Dosen perlu memupuk dan menumbuhkan pemikiran kritis pada setiap stadium pembelajaran, dimulai dari pembelajaran awal. Karena itu di dalam kurikulum pendidikan kedokteran, pengem-bangan pemikiran kritis sebaiknya dimulai sejak semester awal.
Terdapat sejumlah teknik untuk melatih ketrampilan berpikir kritis, antara lain sebagai berikut.
a.       Analisis teks
Latihan ini memberikan kepada mahasiswa sebuah teks tentang suatu kejadian atau cerita. Mereka diminta untuk menjelaskan hubungan logis antara peristiwa-peristiwa di dalam cerita itu. Mereka juga diminta untuk memberikan saran judul teks tersebut, dan memberikan tambahan isi cerita. Kegiatan ini menuntut mahasiswa untuk berpikir logis dan memberikan alasan terhadap setiap kejadian yang berhubungan dengan cerita. Sebagai varian dari latihan ini, mahasiswa bisa diminta untuk memperluas cerita dengan menambahkan tokoh (karakter) atau peristiwa yang terkait dengan cerita semula.
b.      Diskusi Socrates
Latihan ini mencakup pengaju-an pertanyaan-pertanyaan yang dapat mence-tuskan pemikiran kritis. Latihan ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada mahasiswa tentang isu-isu kompleks atau masalah-masalah hipotetik (perumpamaan). Mahasiswa diminta untuk menganalisis konsep, membedakan antara fakta dan asumsi, dan mengusulkan solusi yang tepat.
c.       Berpikir dari kotak masalah (Think-out-of-the Box)
Latihan ini memberikan teka-teki dan pertanyaan kepada mahasiswa untuk mendorong mereka berpikir kreatif yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Sebagai contoh, maha-siswa bisa diminta untuk menggambar sejumlah titik, lalu mereka diminta untuk menghubungan titik-titik itu dengan seminimal mungkin jumlah garis-garis lurus. Permainan ini melatih kemampu-an mahasiswa untuk mengidentifikasi koneksi-koneksi yang kuat dari suatu keadaan yang kompleks, dan membedakannya dengan koneksi-koneksi yang lebih lemah, sehingga dapat melatih kemampuan untuk menemukan solusi yang lebih baik. Permainan berpikir kritis ini bisa dilanjutkan dengan memperkenalkan tititik-titik dengan pola yang berbeda.
7.      Suradijono (2004:31) menyatakan bahwa PBL adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru. Hamizer, dkk (2003:45) menyatakan bahwa Dengan menggunakan metode PBL ini, siswa akan bekerja secara kooperatif dalam kumpulan untuk menyelesaikan masalah sebenarnya dan yang paling penting membina kemahiran untuk menjadi siswa yang belajar secara sendiri.  Siswa akan membina kemampuan berfikir secara kritis, secara kontiniu berkaitan dengan ide yang dihasilkan serta yang akan dilakukan.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa PBL adalah metode pendidikan yang mendorong siswa untuk mengenal cara belajar dan kerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah didunia nyata.  Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.
Persoalan pemecahan masalah terdapat langkah-langkah pemecahan masalahnya, sebagai berikut:
a.       Merumuskan permasalahan dengan jelas,
b.      Menyatakan kembali persoalan dalam bentukyangdapat diselesaikan,
c.       Menyusun hipotesa (sementara) dan strategi pemecahan masalahnya,
d.      Melaksanakan prosedurpemecahan masalah,
e.       Melakukan evaluasi terhadap penyelesaian.
8.      Menurut Supeni (2012) menyatakan pembelajaran orang dewasa merupakan kegiatan belajar mengajar yang terjadi pada orang dewasa yang umumnya dilaksanakan diperguruan tinggi atau lembaga-lembaga pelatihan yang kompeten.Tentu saja pembelajaran tersebut berbeda dengan pembelajaran pada anak-anak dan remaja yang umumnya terjadi oleh campur tangan penuh dari orang dewasa yaitu orang tua dan guru. karena umumnya mereka belum menyadari sepenuhnya lujuan belajar mereka. Pembelajaran pada orang dewasa umumnya terjadi oleh keinginan atau kebutuhan individu sendiri, misal mahasiswa Sl belajar karena ingin masa depannya tejamin yaitu dapat bekerja untuk mendapatkan nafkah.
9.      Menurut Gibbons (2002), self directed learning adalah peningkatan pengetahuan, keahlian, prestasi, dan mengembangkan diri dimana individu menggunakan banyak metode dalam banyak situasi dalam setiap waktu.Self directed learning diperlukan karena dapat memberikan siswa kemampuan untuk mengerjakan tugas, untuk mengkombinasikan perkembangan kemampuan dengan perkembangan karakter dan mempersiapkan siswa untuk mempelajari seluruh kehidupan mereka.  Self directed learning meliputi bagaimana siswa belajar setiap harinya, bagaimana siswa dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang cepat berubah, dan bagaimana siswa dapat mengambil inisiatif sendiri ketika suatu kesempatan tidak terjadi atau tidak muncul. Mahasiswa memutuskan sendiri tentang .bagaimana, di mana, dan kapan belajar tentang suatu hal yang mereka anggap merupakan hal yang penting. Di dalam pembelajaran mandiri mahasiswa berlatih untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang perlu dipelajari lebih jauh (investigation), tahu di mana harus mencari sumber-sumber belajar yang berkaitan dengan masalah tadi, mampu menentukan prioritas dan merancang penelusuran sumber belajar, mampu mempelajari materi yang ada di dalam sumber belajar tadi, dan kemudian menghubungkan informasi yang telah terkumpul dengan pokok bahasan yang sedang dipelajarinya. Ditinjau dari aspek operasional pembelajaran mandiri diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam hal metode dan disiplin, logika dan analitika, kolaboratif dan interdependen, sifat ingin tahu dan terbuka, kreatif, termotivasi, persisten dan bertanggung jawab, percaya diri dan mampu untuk belajar, serta reflektif dan sadar diri. Untuk dapat memiliki sifat sifat yang kompleks tadi, mahasiswa harus memperoleh kesempatan guna mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan dan kecakapannya yang mengarah pada peningkatan pembelajaran mandiri. Keterampilan dan kecakapan tadi meliputi kemampuan mengajukan pertanyaan, mampu untuk menilai secara kritis setiap informasi baru, mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dan keterampilan diri sendiri, dan kemampuan untuk merefleksikan secara kritis proses pembelajaran

DAFTAR PUSTAKA

Fachrurazi. 2011. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Komunikasi Matematika Siswa Sekolah Dasar. No. 1. Hlm. 80. http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/MTK/article/view/3850. Diakses 21 September 2015 (21:30).
Harsono. 2008. Student-Centered Learning di Perguruan Tinggi. Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia(on-line). Vo. 3. No. 1. Hlm 5. luk.staff.ugm.ac.id/mmp/Harsono/SCLdiPT.pdf. Diakses 21 September 2015 (20:15).
Hasrul. 2009. Pemahaman Tentang Gaya Belajar. Jurnal Medtek (on-line). Vol. 1. No. 2. erudio.ub.ac.id/index.php/erudio/article/view/135  . Diakses 21 September 2015 (20:09).
Husnidar., dkk. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Siswa. Jurnal Didaktik Matematika (on-line). Hlm. 73. jurnal.unsyiah.ac.id/DM/article/download/1340/1221. Diakses 21 September 2015 (21:32).
Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Problem-Based-Learning. 2012.  http://fk.uns.ac.id/static/materi/Problem_Based_Learning_Prof_Bhisma_Murti.pdf. Diakses 21 September 2015 (23:45).
Murti, Bhisma. 2012. Berpikir Kritis (Critical Thinking). Institute for Health Economic and Policy Studiesc(on-line). fk.uns.ac.id/static/file/criticalthinking.pdf. Diakses 21 September 2015 (19:19).
Supeni, Maria Goretti. 2012. Pembelajaran Orang Dewasa.  Jurnal Utm (on-line). Vol. 36. No. 2 hlm. 62. http://jurnal.utm.ac.id/index.php/MID/article/view/210/208. Diakses 10 September 2015 (21:30).
Suryana. 2013. Model Pembelajaran Efektif. file.upi.edu/.../196006021986011-SURYANA/FILE_16.pdf. Diakses 21 September 2015 (19:02).
Syafni, Elgi, Yarmis Syukur, Indra Ibrahim. 2013. Masalah Belajar Siswa Dan Penanganannya. Konselor Jurnal Ilmiah Konseling (on-line). Vol. 2. No. 2. hlm. 15. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/konselor. Diakses 10 September 2015 (19:12).
Tanta. 2010. Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Biologi Universitas Cenderawasih. Jurnal Kependidikan Dasar (on-line). Vol. 1. No. 1. Hlm. 19. journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kreatif/article/download/1666/1873. Diakses 21 Seotember 2015 (17:04).

0 komentar:

 

Mauli's Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea