Pages

Senin, 19 November 2012

Arti Sebuah Nama

Diposkan oleh Mauli di 07.18

By: Nindy Paramitha Masduki

Dimalam yang gelap, Tini sedang berusaha untuk mengerjakan subuah Pr dari guru Bahasa Indonesia-nya. Setelah ia menyelesaikan Pr-nya tersebut, ia mulai berpikir “Mengapa aku diberi mana Kartini?” dan “Di zaman seperti ini mengapa orang tua ku mamberi nama yang rasanya sangatlah ketinggalan zaman?”.

Tini pun teringat teman-temannya yang ada di sekolah. Nama yang dipunyai oleh teman-temannya tersebut sangatlah bagus. Ada Claudia, Tania, Miranda dan lain sebagainya. Tidak ada satu pun yang kampungan. Pada awalnya memang Tini tidak merasa bahwa namanya itu kampungan, akan tetapi banyak teman lelekinya yang mengejek-ejek nama Tini. Ada yang bilang “Ah, Tini kan nama tukang ketoprak di dekat rumah gw..” dan ada juga yang bilang “Loh? Di daerah rumah gw Tini itu tukang jamu..!”.

Hmm… sering sekali Tini mendapat ejekan seperti itu tetapi Tini tidak menghiraukannya. Namun Lambat lalun ia merasa tidak nyaman. Pernah suatu hari Tini meminta kepada ibunya untuk mengganti mananya tersebut. Alhasil ibunya tidak menginzinkannya karena alasan nama Kartini itu adalah nama pemberian dari Alm ayahnnya untuk dirinya. Ia harus menghargai nama pemberian ayahnya tersebut kalau tidak ayah akan sedih di atas sana. Tini kecil yang baru ditinggal sang ayah tidak ingin Alm ayahnya bersedih. Jadi, ia tidak meninta hal yang aneh-aneh jika disinggungkan tentang ayahnya. Ayah Tini meninggal saat menjalankan tugas sebagai alat pertahanan negara. Ya, ayahanda Tini adalah seorang TNI AL yang gugur.

Terlalu lama Tini memikirkan hal tersebut. Tidak terasa waktu menunjukan pukul setengah sepuluh malam, tetapi belum ada rasa kantuk yang menggelayuti matanya. Sampai pada akhirnya Ibu melihat pintu kamar Tini yang sedikit terbuka. Lalu Ibu berniat untuk menutup rapat pintu tersebut karna tekut kamar anaknya dikerubungi oleh nyamuk. Perlahan Ibu mengintip kedalam kamar melalui celah pintu karena ingin melihatanaknya yang sedang tertidur pulas. Namun yang dilihat bukanlah Tini yang sedang tidur melainkan Tini yang masih duduk manis di meja belajarnya.

“Tok..Tok..”. Ibu pun mengetuk pintu. Dengan segera Tini menoleh ke sumber suara.
“Eh Ibu, Tini kira siapa.. hehehe”. Ujar Tini setengah kaget.
“Memengnya menurut kamu siapa? Mahluk halus?”. Ujar Ibu ssambil bercanda dan segera duduk di kasur Tini.
“Hahahaha.. ah Ibu, bukan bu, Tini kira kak Rizky. Dia kan jahil bu, suka masuk ke kamar orang seenaknya..”. jawab Tini.
“Eh, jangan gitu. Dia kan kakakmu juga. Kamu kenapa belum tidur? Tidak seperti biasanya. Apa ada masalah??”’ Tanya ibu.
“Emh,, nggak kok bu, Tini lagi mikir tentang Pr Bahasa Indonesia ini nih bu..”. jawab tini seraya menunjukan bukunya kepada ibu.
“Loh? Ini kan sudah selesai? Memang pap kesulitannya?”. Tanya ibu lagi.
“Tini nggak merasa kesulitan kok bu, tapi Tini bingung..”. kata Tini. Hal ini membuat Ibunya ikuta jadi bingung.
“Loh katanya tidak sulit, tapi kok bingung?”. Tanya ibu sambil memperhatikan tulisan Tini sedetai-detailnya. “Ini juga sudah benar kok silsilah keluarganya.. Apa yang membuatmu bingung nduk??”. Sekali lagi ibu bertanya dengan suara yang lemah lembut.
“Lihat deh bu, nama ayah, nama ibu, nama kakak dan nama Tini…!”. Ujar Tini.
“Iya, kenapa toh?”. Tanya ibu.
“Hmm, bu.. kayaknya cuma nama Tini yang jel- eh, maksudnya aneh bu..”. ujar tini dengan hati-hati, karena bagaimana pun juga nama itu pemberian orangtuanya. Tini takut ibu jadi tersingung.
“Loh?? Aneh gimana toh nduk? Kartini itu kan nama bagus nduk?”. Ujar ibu dengan nada suara yang tidak berubah yaitu lembut.
“Iya sih bu,,”. Jawab Tini singgkat “tapi bu menurut Tini nama itu sangat aneh bu.. Kata teman-teman tini pun Kartio itu nama yang ‘primitif’..”. Ujar Tini setengah merengek.
Ibu hanya terdiam mencoba menelaah semua perkataan anak perempuannya tersebut.
“Bu? Maaf Tini sudah lancang menanyakan hal seperti itu. Habisnya Tini bingung kenapa nama Tini itu jadul, tapi kakak? Nama dia lumayan keren bu, ga se-primitif Tini? Padahal sia yang jauh lebih dulu lahir dan pastinya lebih tua dari pada Tini ehh tapinya nama dia lebih keren dari pada Tini.”. Jelas Tini.
Oh, jadi itu yang membuatmu bingung sedari tadi?”. Tanya Ibu. Tini pun mengangguk.
“Nduk, asal kamu tau semua nama itu pasti mengandung arti. Yahh, walaupun tidak memiliki arti tetapi apsti ada maksud tertentu dari orangtuanya.”. Jelas ibu.
“Iya bu, Tini ngerti. Nah, lalu apa alasan ayah dan ibu mamberi nama Tini itu Kartini?”. Tanya Tini dengan wajah yang serius.
“Kamu tau nggak siapa yang ada di gambar itu?”. Tanya ibu sembari menunjukan sebuah gambar yang ada di buku sejarah Tini.
“Iya bu, tau. Itu kan R.A Kartini kan?”. Jawab Tini.
“Betul, pintar kamu nduk. Nah, kamu tau nggak apa yang mambuat R.A Kartini itu special di masa-masa dulu bahkan sampai sekarang?”. Tanya ibu lagi.
“Setau tini bu, R.A Kartini itu anak bangsawan bu, terus beliau itu tokoh emansipasi wanita bu..”. Kata Tini.
“Nah, ayahmu itu mau kamu seperti beliau nduk..”. Kata ibu.
“Maksudnya bu?”. Tanya tini sedikit bingung.
“Jadi gini loh.. Zaman dahulu itu anak perempuan itu tidak dibolehkan mencari ilmu. Anak perempuan itu hanya diperbolehkan di dapur, masak, beres-beres rumah dan mengurus anak. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan sokolah. Nah, R.A Kartini itu adalahanak yang beruntung. Beliau adalah seorang anak dari bangsawan. Yahh, kalau dibandingkan dengan sekarang ini ayahnya itu sekelas dengan Bupati. Jadi, beliau diperbolehkan sekolah. Dan sekolahnya pun bukan dengan orang-orang sembarangan, melainkan anak dari para penjajah. Namun, pada suatu hari ayah dan ibu R.A Kartini memutuskan untuk memberhentikan  beliau dari sekolahnya dan beliau harus segera menikah. Pada akhirnya R.A Kartini itu dipingit. Rutinitasya di dalam kamar adalah membaca buku dan bersuratria dangan teman-tamannya. Suratnya tersebut berisikan tentang kekecewaan beliau terhadap aturan-aturan yang mengatur bahwa wanita tidak boleh ini, tidak boleh itu, hanya boleh di dapur dan mengurus anak saja. Padahal menurut beliau wanita juga bias melakukan sesuatu selain memasak auat mengurus anak. Wanita juga bias berprestasi menurutnya.”. Cerita ibu kepada Tini.
“Kok ibu bias tau isi dari surat itu?”. Tanya Tini.
“Lah? Kan da bukunya toh nduk. Apa kamu tidak tau?”. Tanya ibu kepada Tini.
“Buku? Buku apa bu? Hehe Tini kurang tau bu..”. Ujar Tini gambil menggaruk=garuk kepalanya.
“Tuh.. Makanya kalau lagi waktu senggang itu banyakin baca buku toh nduk.. Buku yang menjelaskan tentang isi surat-surat R.A Kartini yang dikirin kepada teman-temannya itu berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku itu dibuat tidak lama setelah R.A Kartini wafat.”. Jelas ibu.
“Oh, gitu toh bu, hehehe.. Hmm sebenarnya Tini tau kok bu sama judul buku tersebut. Hanya saja Tini nggak tau isinya.. hehehe”. Jawab Tini tersipu malu. Memang Tini itu tergolong anak yang malas membaca.
“Ya isinya itu tentang beliau yang ingin sekali menaikan derajat wanita sampai setara denganpara pria. Namun dalan artian wanita juga bisa berprestasi dan bekerja selain pekerjaan wanita pada umumnya.”. Jelas ibu. “Nah, ayah dan ibu mau kamu seperti beliau, tetap mencari ilmu walau pun banyak rintangannya. Kalau dulu mungkin masalahnya tidak diperbolehkan sekolah, tapi zaman sekarang rata-rata karena biaya. Nah, kamu itu mesti berjuang menggapai cita-citamu mwlaupun ibu tidak bias membiayai kamu nduk. Banyak jalan menuju roma. Kamu jangan pernah menyerah untuk menggapai cita-citamu ya nduk. Kalau kamu di dasari oleh niatan yang baik pasti Gusti Allah akan mempermudah proses kamu dalam menggapai cita-citamu itu nduk..”. Jelas ibu lagi.
“oh, jadi karena itu ayah dan ibu memberikan Tini mana Kartini? Hehe..” Kata Tini.
“Iya nduk, kamu masih mau mengganti namamu itu?”. Tanya ibu.
“Hah? Nggak bu, nggak..! tini nggak mau ganti nama lagi, karena nama Tini mempunyai makna yang sangat bagus bu,, Trimakasih ya bu…”. Ujar Tini seraya memeluk ibunya. “Oh iya bu, kata ibu semua nama punya makna, nah, nama kak Rizky itu apa ya bu??”Tanya Tini iseng.
“Oh, kakakmu itu, gini loh, kamu tau kan kalau pekerjaan ayahmu itu melaut terus. Nah, waktu kakamu itu lahir, ayahmu itu langsung memberi nama Muhammad Rizky Satria, maknanya sih simple. Ayahmu itu ingin kakakmu menjadi satria disaat ayah sedang melaut dan juga bias mengalirkan rezeki buat ayah dan ibu.”. Jelas ibu.
“Oh, gitu bu.. hehe. Iya Tini sekarang tau bahwa sejelek apa pun nama seseorang pasti punya arti atau makna tertentu dari orang yang memberikan nama tersebut. Seperti Tini, walau pun namanya jadul, tapi memiliki makna yang sangat bagus.. hehe” kata tini penuh senyum. Ibu pun ikut tersenyum.
“Hoaaammh,,, bu, Tini sudah ngantuk..”. Kata Tini.
“Ya sudah, kamu tudur ya nduk.. Biar besok tidak kesiangan.”. Jawab ibu seraya menaikan selimun ke tubuh Tini. Tidak lipa ibu mengecupkan bibirnya di kening Tini dan mulai beranjak pergi maninggalkan Tini dalam posisi yang sudah siap untuk bermimpi indah. Sabelum keluar dari kamar Tini ibu memetikan lampu dan berkata “Selamat tidur nduk..”. Ucap ibu seraya tersenyum. “Semoga kamu bias mengirti maksud dari namamu dan bias mengamalkan apa yang diinginkan oleh ayahmu.”. Ucap ibu lagi, tetapi kali ini ibu mengungkapkannya di dalam hati seraya menutup pintu kamar Tini.

0 komentar:

 

Mauli's Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea