Gaya
bahasa dalam karya sastra berfungsi sebagai alat utama pengarang untuk
melukiskan, menggambarkan, dan menghidupkan cerita secara estetika. Gaya bahasa sangat banyak jenisnya. Berikut dijelaskan tiga jenis gaya bahasa yang sangat sering muncul dalam karya sastra.
1) Personifikasi
Gaya bahasa ini sering digunakan dalam karya sastra. Gaya bahasa ini mendeskripsikan benda-benda mati dengan cara memberikan sifat-sifat sperti manusia.
Contoh :





2) Simile (Perumpamaan )
Gaya bahasa ini mendeskripsikan/menggambarkan sesuatu dengan pengibaratan. Ciri yang sangat tampak ,yakni adanya penggunaan kata ibarat, laksana, seperti, umpama, ataupun bak
Contoh :
Langit yang berawan itu adalah seperti payung ubur-ubur, yang diperbuat daripada sutera hijau ( Azab dan Sengsara, Merari Siregar ).
3) Hiperbola
Gaya bahasa ini mendeskripsikan sesuatu dengan cara berlebihan dengan maksud memberikan efek berlebihan.
Contoh :





4) Metafora
Gaya bahasa yang mengandung perbandingan yang sejajar atau memiliki kesamaan, sebagai pengganti suatu kata atau ungkapan
Contoh :



5) Klimaks
Gaya bahasa yang penegasannya dengan menyebutkan beberapa hal berturut-turut yang makin lama menghebat.
Contoh:



6) Anti Klimaks
Gaya bahasa menyebutkan beberapa hal berturut-turut semakin menurun
Contoh :



7) Repetisi
Gaya bahasa penegasan dengan cara mengulang-ulangi kata atau bagian kalimat.
Contoh :



8) Paradoks
Gaya bahasa yang menyebutkan dua hal yang bertentangan padahal sebenarnya tidak
Contoh :



9) Antitesa
Gaya bahasa yang memakai kata-kata yang berlawanan arti untuk mempertegas maksud.
Contoh :



10) Ironi
Gaya bahasa yang dipergunakan untuk menyindir secara halus lawan bicaranya
Contoh :



11) Sinisme
Gaya bahasa yang menyindir lawan bicaranya dengan lebih kasar daripada ironi.
Contoh :



12) Sarkasme
Gaya bahasa yang menyindir lawan bicaranya dengan cara amat kasar sehingga bisa menyakitkan hati.
Contoh :



13) Metonimia
Gaya bahasa yang mempergunakan kata yang berasosiasi dengan suatu benda.
Contoh :




14) Pleonasme
Gaya bahasa yang memberikan keterangan terhadap suatu kata yang sebenarnya telah mengandung keterangan.
Contoh :



15) Inversi
Gaya bahasa yang menarik perhatian dengan cara membalik susunan katanya.
Contoh :



16) Litotes
Gaya bahasa yang mempergunakan kata yang berlawanan arti dengan tujuan untuk merendahkan diri.
Contoh :



17) Simbolik
Gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan lambang-lambang.
Contoh :



18) Koreksi
Gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu yang salah lalu dibetulkan lagi.
Contoh :



19) Retoris
Adalah gaya bahasa dengan mengajukan pertanyaan yang tidak perlu dijawab, untuk menarik perhatian.



20) Asosiasi
Gaya bahasa yang membandingkan sesuatu benda yang telah disebutkan dengan benda lain. Pada umumnya asosiasi menggunakan kata penghubung.
Contoh :



21) Sinekdok
Gaya bahasa yang menyebutkan sesuatu benda. Bila penyebutan sebagian yang dimaksudkan disebut Sinekdok pars pro toto.
Contoh :



Sedangkan bila penyebutan itu seluruhnya tetapi yang dimaksudkan sebagian disebut Sinekdok totem pro parte.
Contoh :



22) Paralelisme
Gaya bahasa perulangan yang terdapat di dalam sajak. Bila perulangan itu terdapat pada awal baris disebut anafora.
Contoh :

Kaulah tenang sawah yang lapang,
Kaulah lelap orang di lawang,
Ah, engkau nan masih lemah melambai
………………………………………….
Rustam Effendi, Percikan Permenungan
Sedangkan bila perulangan itu terdapat pada akhir baris disebut Epifora
Contoh :

Bila kau pinta,ia akan datang
Jika kau kehendaki, ia akan datang
23) Retisentia
Gaya bahasa yang menyembunyikan sebagian pikiran atau perasaan untuk menarik perhatian.
Contoh :



24) Tautologi
Gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu dengan cara menyebutkan dua kata yang searti
Contoh :



25) Asindenton
Gaya bahasa penyebutan beberapa hal secara berurutan tanpa menggunakan kata sambung.
Contoh :



Bila penyebutan itu menggunakan kata sambung disebut polisindenton.
Contoh :



0 komentar: